Tuesday, June 9, 2009

Pesan Untukkmu Anakku

Anakku yang kusayangi…
Pada suatu saat dikala kamu menyadari bahwa aku t’lah menjadi sangat tua,
Cobalah berlaku sabar dan cobalah mengerti aku..
Jika banyak makanan yang tercecer kala aku sedang makan,
Jika aku kesulitan dalam mengenakan pakaianku sendiri,
Sabarlah!
 
Kenanglah saat-saat dimana aku meluangkan waktuku untuk mengajarimu tentang segala sesuatu yang perlu kau tahu ketika kau masih kecil.
Jika aku mengulang mengatakan hal yang sama berpuluh kali,
Janganlah menghentikanku, dengarkanlah aku!
Ketika kau kecil, kau slalu memintaku membacakanmu cerita yang sama berulang-ulang
Dari malam yang satu ke malam yang lain hingga kau tertidur
Dan semua itu kulakukan untukmu

Jika aku enggan mandi,
Janganlah memarahiku dan jangan katakan padaku itu memalukan
Ingatlah berapa banyak pengertian yang kuberikan padamu, saat menyuruhmu mandi kala kau kecil

Kala melihat ketidaktahuanku akan teknologi yang baru,
Janganlah menertawakanku
Tapi berikanlah waktu untukku memahaminya.
Seperti aku mengajarimu banyak hal,
Cara makan yang baik, cara berpakaian yang baik
Berperilaku yag baik juga bagaimana menghadapi masalah dalam kehidupan

Jika kadang aku menjadi pelupa dan aku tidak dapat mengerti dan mengikuti pembicaraan
Berilah aku waktu untuk mengingat dan jika aku gagal melakukannya
Jangan Sombong dan Memarahiku
Karna yang penting bagiku adalah aku dapat bersamamu dan dapat berbicara padamu

Jika aku tak mau makan,
Jangan paksa aku
Aku tahu bilamana aku lapar dan kapan aku tak lapar.

Ketika kakiku tak lagi mampu menyangga tubuhku, untuk bergerak seperti sebelumnya,
Bantulah aku dengan cara yang sama ketika aku merengkuhmu dalam tanganku, mengajarimu melakukan langkah-langkah pertamamu.

Dan kala suatu saat nanti ketika kukatakan padamu
Bahwa aku tak lagi ingin hidup, ketika aku ingin mati
Jangan marah karena pada saatnya nanti kau juga akan mengerti!
Cobalah utnuk mengerti bahwa pada usia tertentu
Kita tidak benar-benar “hidup” lagi, kita hanya “tidak mati”

Suatu hari kelak kau akan mengerti bahwa di samping semua kesalahan yang kubuat, aku slalu ingin apa yang terbaik bagimu dan bahwa aku menyiapkan dasar bagi perkembangan kehidupanmu kelak.
Kau tak usah merasa sedih, tidak beruntun atau gagal di hadapanku melihat kondisiku dan usiaku yang sudah bertambah tua. Kau harus slalu ada didekatku, mencoba mengerti aku bahwa hidupku adalah bagimu, bagi kesuksesanmu seperti apa yang kulakukan pada saat kau lahir.

Bantulah aku untuk berjalan,
Bantulah aku pada akhir hidupku dengan Cinta dan Kesabaran
Satu hal yang membuatku harus berterimakasih padamu adalah senyum dan kecintaanmu padaku

Aku mencintaimu anakku
Ayah dan Ibumu

Monday, June 8, 2009

Menikmati Hidup dengan 90/10

PRINSIP 90/10

Oleh : STEPHEN COVEY

Bagaimana prinsip 90/10 itu ?
- 10% dari hidup anda terjadi karena apa yang langsung anda alami.
- 90% dari hidup anda ditentukan dari cara anda bereaksi.

Maksudnya :
Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri anda.


Contoh :
Anda tidak dapat menghindar dari kemacetan.
Pesawat terlambat datang dan hal ini akan mengganggu seluruh jadwal anda.
Kemacetan telah menghambat seluruh rencana anda.
Anda tidak dapat mengontrol kondisi 10% ini.
Tetapi beda dengan 90% lainnya. Anda dapat mengontrol yang 90% ini.
Bagaimana caranya ?
Dari cara reaksi anda !!
Anda tidak dapat mengontrol lampu merah, tetapi anda dapat mengontrol reaksi anda.


Contoh Lain :
Anda makan pagi dengan keluarga anda. Anak anda secara tidak sengaja menyenggol cangkir kopi minuman anda sehingga pakaian kerja anda tersiram kotor. Anda tidak dapat mengendalikan apa yang baru saja terjadi.

Reaksi Anda :
Anda bentak anak anda karena telah menjatuhkan kopi ke pakaian anda. Anak anda akhirnya menangis. Setelah membentak, anda menoleh ke istri anda dan mengkritik karena telah menaruh cangkir pada posisi terlalu pinggir diujung meja.

Akhirnya terjadi pertengkaran mulut. Anda lari ke kamar dan cepat-cepat ganti baju. Kembali ke ruang makan, anak anda masih menangis sambil menghabiskan makan paginya. Akhirnya anak anda ketinggalan bis. Istri anda harus secepatnya pergi kerja. Anda buru-buru ke mobil dan mengantar anak anda ke sekolah. Karena anda telat, anda laju mobil dengan kecepatan 70 km/jam padahal batas kecepatan hanya boleh 60 km/jam. Setelah terlambat 15 menit dan terpaksa mengeluarkan kocek Rp 600.000,- karena melanggar lalu lintas, akhirnya anda sampai di sekolah. Anak anda secepatnya keluar dari mobil tanpa pamit..
Setelah tiba di kantor dimana anda telat 20 menit, anda baru ingat kalau tas anda tertinggal di rumah. Hari kerja anda dimulai dengan situasi buruk. Jika diteruskan maka akan semakin buruk. Pikiran anda terganggu karena kondisi di rumah.

Pada saat tiba di rumah, anda menjumpai beberapa gangguan hubungan dengan istri dan anak anda.
Mengapa ? Karena cara anda bereaksi pada pagi hari.

Mengapa anda mengalami hari yang buruk ?*
1. Apakah penyebabnya karena kejatuhan kopi ?
2. Apakah penyebabnya karena anak anda ?
3. Apakah penyebabnya karena polisi lalu lintas ?
4. Apakah anda penyebabnya ?
Jawabannya adalah No. 4 yaitu penyebabnya adalah anda sendiri !!
Anda tidak dapat mengendalikan diri setelah apa yang terjadi pada cangkir kopi. Cara anda bereaksi dalam 5 detik tersebut ternyata adalah penyebab hari buruk anda.

Cara yang seharusnya :
Cairan kopi menyiram baju anda. Begitu anak anda akan menangis, anda berkata lembut : "Tidak apa-apa sayang, lain kali hati-hati ya." Anda ambil handuk kecil dan lari ke kamar. Setelah mengganti pakaian dan mengambil tas, secepatnya anda menuju jendela ruang depan dan melihat anak anda sedang naik bis sambil melambaikan tangan ke anda. Anda kemudian mengecup lembut pipi istri anda dan mengatakan : "Sampai jumpa makan malam nanti."

Anda datang ke kantor 5 menit lebih cepat dan dengan muka cerah menegur staff anda. Bos anda mengomentari semangat dan kecerahan hari anda di kantor.

Ternyata penyebabnya adalah dari cara anda bereaksi !
Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari yang sudah terjadi. Tetapi yang 90% tergantung dari reaksi anda sendiri. Ini adalah cara untuk menerapkan prinsip 90/10. Jika ada orang yang mengatakan hal buruk tentang anda, jangan cepat terpancing. Biarkan serangan tersebut mengalir seperti air di gelas. Anda jangan membiarkan komentar buruk tersebut mempengaruhi anda.
Jika beraksi seadanya atau salah reaksi maka akan menyebabkan anda: kehilangan teman, dipecat, stress dan lain-lain yang merugikan.


Contoh lain :
- Anda dipecat.
Mengapa anda sampai tidak bisa tidur dan khawatir ?
Suatu waktu akan ada jalan keluar. Gunakan energi dan waktu yang hilang karena kekhawatiran tersebut untuk mencari pekerjaan yang lain.

- Pesawat terlambat.
Kondisi ini merusak seluruh schedule anda. Kenapa anda marah-marah kepada petugas tiket di bandara ? Mereka tidak dapat mengendalikan terhadap apa yang terjadi. Kenapa harus stress ? Kondisi ini justru akan memperburuk kondisi anda. Gunakan waktu anda untuk mempelajari situasi, membaca buku yang anda bawa, atau mengenali penumpang lain.
 
Gunakanlah prinsip 90/10 dalam aktivitas harian anda dan anda akan kagum atas hasilnya. Tidak ada yang hilang danhasilnya sangat menakjubkan.

Monday, June 1, 2009

Menanti Jawab Bahagia

Malam itu begitu pekat
Hanya bulan yang setia menyinari
Kulihat wajah yang begitu bahagia
Senyum indah menghiasi wajah itu
Lelah dan bahagia semu memenuhi relung jiwa
Menanti jawab atas senyuman indah
Detik berganti menit
Hingga akhirnya tiba waktu tuk mencari jawab

Berjalan di gelap malam
Mencari akhir dari keraguan
Akhir dari sebuah penantian dan kegundahan hati
Hingga kutemukan sebuah perhentian itu

Kulepaskan genggaman tuk merelakanmu
Berjalan menuju bahagiamu
Bintang perlahan mulai menampakan diri
Menggantikanmu menemaniku

Kutunggu.. namun..
Penantianku bukanlah yang seharusnya
Meninggalkanmu adalah yang terbaik
Karna dia kan menjagamu dan menyayangimu
Jauh lebih dalam dariku

Kunanti kau di akhir
Senyum indah dan sentuhan hangatnya
Menjawab sgala tanya di hati
Dialah bahagiamu

Aku bukan siapa didirimu
Di lubuk hati terdalamku
Kau berarti dalam diriku
Terlalu banyak yang tlah kau lakukan untukku
Maafkan semua salahku
Biarkan senyum indah itu menghiasi wajahmu
Karna senyum bahagiamu menjadi bahagiaku jua

Sunday, May 24, 2009

Sahabat Palsu

Layaknya riak ombak di tepi pantai
Berkali-kali kau ucapkan kita sahabat
Namun layaknya riuh hujan di hari itu
Berkali-kali pula kau kecewakan aku


Sahabat..
Kucari dan kujaga slalu
Namun inikah balasan untuk semua itu?
Melukai dan menyakiti seolah menjadi kebahagiaanmu


Sekali ku mencoba bertahan
Melupakan semuanya bersama hembusan angin
Namun semua terulang
dan slalu ku coba bertahan menahan sakit hati ini


Mengapa begitu menyakitkan bagiku??
Karna ku tau kau yang melakukan semua itu
Mulut manis dan semua tingkahmu
Meluluhkan hati beku ini
Namun kau keraskan lagi dengan semua sakit karnamu


Kusesali semua perjumpaan
Kusesali semua yang tlah kita lakukan
Kusesali mengapa harus kumasuki lingkaran ini
Andai waktu dapat kuputar kembali


Malam bantulah aku tuk menghapus perih hati ini
Redup sinar bulan menjadi tanda
Tiada lagi kata sahabat sejati
Karna mereka bukanlah sahabat sejati
Namun hanyalah Sahabat Palsu
yang baginya Maaf adalah kata yang tak akan mereka ucapkan


Kuharap dapat bertahan di sisa tahun ini
Mempertanggungjawabkan smua pilihanku
Pilihan yang salah yang ingin skali kuakhiri
Namun hanya waktu yang dapat mengakhiri ini semua
Waktu cepatlah berlalu
Agar tak perlu lagi kutemui sahabat palsu


Langit cerah pun akan menjadi langit kelam
Kala badai datang
begitu pula hidup
Kebahagian yang diberi kan menjadi kesedihan
saat kepalsuan tumbuh di dalamnya

Sunday, April 12, 2009

Benarkah Itu Segalanya Bagimu?

Masih terukir dengan indah di diri ini
Kala kau katakan sahabat sgalanya untukmu
Namun semua yang kau perbuat tak mencerminkan itu semua
Benarkah itu semua sgalanya untukmu???

Tak pernah kusangka kau 'kan lakukan itu semua
Kau katakan itu karena kau sahabat
Namun kau tak lebih seperti duri di indahya bunga mawar
Kau goreskan luka yang tak mudah tuk dihapuskan

Mengapa harus kau lakukan???
Semua tingkah lakumu sungguh menyakitkan
Kau buat hati ini penuh dengan awan hitam kebencian
Awan ini tak mudah tuk pergi dari hati

Kala kubuka mata dan hati ini
Slalu saja kabut hitam menyelimuti
Karna semua tingkah lakumu
Mengapa tak kau sadari semua itu???

Sungguh menyakitkan kala kuharus menerima semuanya
Namun inilah saatnya hati ini berontak
Mengakhiri semua kabut putih yang tlah menjadi gelap kini
Akankah pelangi kan menunjukan dirinya setelah awan gelap menyelimuti hatiku???

Sahabat sejati takkan menyakiti dan melukai sahabatnya
Itulah yang slalu kuingat
Inginku menatap lengkung indah pelangi bersama hangatnya matahari kembali
Namun kusadari hanya akan ada lengkung pelangi lagi tanpa hangat mentari
Karena luka ini terlalu dalam tuk dihapus
Dan cukuplah pelangi yang mungkin dapat mengakhiri semua
Dan kaulah sang penentu indahnya pelangi itu

Tuesday, March 24, 2009

Sedihku

Riuhnya suara hujan
Mengiringi kepergian mimpi dan asaku
Kilat yang terus menampakan dirinya
Laksana pisau yang terus menggores hati ini
Dan perlahan mengikis semua mimpiku


Mengapa harus terjadi?
Kehilanganmu telah cukup menyakitiku
Mengapa kini kuharus kehilangan mimpi terindahku?

Berat rasa hati ini merelakan semua itu harus menjauh dariku
Tiada lagi kesempatan untukku mengulang semuanya


Inikah akhir dari semuanya?
Kusesali semua yang terjadi
Namun apa dayaku tuk menghapusnya
Ingin hati ini berontak
Namun hanya air mata yang dapat menetes

Tuhan Tolonglah
Hapuslah semua kenangan akan ini semua
Inginku bangkitkan kembali
Semangat dan asaku
Agar dapat kujalani sisa hidupku
Tanpa kesedihan dan lukisan luka di hati ini
Menatap masa depan yang masih menungguku


Biarlah semua perih dan duka ini
Pergi bersama air hujan
yang terus setia menemani sepi dan sedihku
Terbitkanlah mentari cerah di hatiku
'Tuk menghapuskan awan kelabu di diri ini

Sunday, March 15, 2009

LKTI UI 2009

Tanggal 10-13 Maret 2009 diadakan Lomba Keilmuan Teknik Industri di Universitas Indonesia, dan beruntungnya aku berkesempatan untuk menjadi peserta. Segala persiapan bahkan pendaftaran juga bersifat dadakan. Pada hari terakhir pendaftaran barulah tim kami terbentuk. Timku beranggotakan Angga '05, Marina, Mellisa dan aku. Satu tim lagi adalah Grace '05, Michael, Lukas dan Hendrik. Tidak ada persiapan sebelumnya dari kami, hanya pada hari Sabtu sebelum kami berangkat pada hari Senin, kami diberikan bimbingan kecil dari Pak Rian mengenai sistem. Hanya itulah persiapan kami.

Hari keberangkatan menjadi hari menegangkan yang cukup ditunggu. Kami berangkat hari Senin pukul 13.00. Hujan besar dan macet mengiringi keberangkatan kami. Dalam perjalanan kami cukup menikmati, senda-gurau menjadi teman dalam perjalanan. Hingga akhirnya sekitar pukul 17.00, aku mendapat telepon dari panitia LKTI yang menanyakan keberadaan kami tim UNPAR, saat itu kami masih di Bekasi, mereka mengabarkan bahwa jika hingga pukul 18.00 kami masih belum datang ke Wisma Makara maka tim kami akan didiskualifikasi. Aku berusaha meminta agar kami mendapat sedikit dispensasi karena jalanan saat itu memang cukup macet dan hujan cukup mengguyur. Akhirnya kami sampai di Universitas Indonesia, sekarang masalahnya adalah menemukan letak Wisma Makara tersebut. Aku bertanya pada panitia dan yang lain bertanya pada orang-orang sekitar, cukup lama kami tersesat namun akhirnya kami berhasil sampai di Wisma tersebut. Perjalanan yang sangat menyenangkan dan sedikit membuat deg-degan dan cukup menggelikan.

Setelah kami sampai di Wisma tersebut, kami disambut oleh LO untuk tim kami. Sebelum kami berkenalan dengan mereka, kami harus foto team dengan menggunakan almamater UNPAR. Kemudaian kami melakukan registrasi ulang dan berkenalan dengan LO kami yaitu Shinta untuk team ku (Unpar 1) dan Sisi untuk Team Unpar 2. Kamar kami di random dan aku sekamar dengan Mellisa. Kami sekamar dengan anak UGM dan Natalia dari UPH. Setelah kami selesai mandi dan makan pukul 7 diadakan acara dari panitia. Dalam perjalanan turun ke tempat acara, kami sempat berkenalan dengan LO dari UI yang lain yang dulu adalah LO dari Team Unpar sebelumnya yaitu Jennifer (nice to meet her). Kami mengikuti acara tersebut hingga akhirnya diadakan Tech. Meet untuk perlombaan Babak 1 esok harinya. Aku dan Mellisa yang mewakili team kami dan team yang satunya diwakili oleh Hendrik dan Mike. Setelah Tech.Meet kami berdelapan berkumpul di kamar Grace untuk belajar dan menceritakan teknis lomba besok pagi. Kami belajar bersama dan mulai saat itu ketegangan lomba telah mulai terasa. Kami bersama saling membantu dalam belajar, review ulang dilakukan untuk me-refresh ingatan kami. Pukul 00.00 kami diwajibkan telah kembali ke kamar masing-masing dan kami pun kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Esok harinya kami telah bersiap-siap sejak pukul 7 pagi. Dengan semangat yang masih penuh kami turun dan bersiap-siap menuju ruang perlombaan. Terjadi sedikit keterlambatan dalam persiapan lomba oleh panitia. Saat-saat menunggu itulah yang membuat kami menjadi lebih dekat satu sama lain juga dengan LO kami. Akhirnya Opening dari pihak UI dimulai kemudian disusul dengan reviewPart 1 (Time Zoning) Pada bagian ini kami harus menjawab tiap soal dalam waktu maksimal 1 menit penurunan skor akan dilakukan tiap 20 detik. Soal pertama diberikan kami cukup kaget dengan soal pertama tersebut, kami merasa belum pernah mendengar soal tersebut. Kami berusaha saling menyemangati satu sama lain. Hingga bagian pertama berakhir kami hanya dapat menjawab 2 soal saja dengan benar, beberapa soal kami melakukan kesalahan-kesalahan kecil dan ketidak telitian dalam perhitungan. Kami hanya mendapat skor 240 saja. Semangat kami sedikit menurun. Bagian 1 berakhir dengan dibacakannya nilai akhir dari tiap tim, tim kami berada pada 20 sekian. Bagian 2 adalah bagian kami harus memasang taruhan untuk tiap soal. Soal 1 kami dapat menjawab dengan baik dan kami memperoleh 160 poin. Semangat kami mulai tumbuh, namun pada soal-soal selanjutnya kami gagal menjawab dan kami kalah bertaruh hingga akhirnya sisa skor kami di bagian 1 dan 2 hanya tingga -30 saja. Semangat kami dalam sekejap turun, kami frustasi dan depresi saat itu. Kesalahan terbesar kami adalah kami terlalu berani bertaruh dan terlalu berharap dapat memperoleh tambahan poin, kurang kesabaran dan terlalu berpikiran nothing to lose tapi yang terjadi kami malah kehilangan sangat banyak. Inilah titik kesalahan terbesar kami. Namun beruntungnya team yang satu berada pada urutan 8 sedangkan team ku berada pada urutan 31 dari 35 team, tekanan semakin berat dalam diri team ku ini. teknis lomba babak 1. Akhirnya saat yang menegangkan tiba, Babak 1

Kami break makan siang, team ku telah kehilangan semangat juangnya masing-masing, kami yang pada awalnya bersenang-senang dan bersenda-gurau bersama kini tampak lebih murung. Team yang satunya memberi kami semangat begitu juga para LO kami yang perlahan mulai menjadi cukup dekat dengan kami. Masing-masing dari kami mencoba menemukan pemicu semangat kembali. Setelah selesai makan siang, kami berempat saling memberikan semangat. Kuyakini satu hal Akan selalu ada kesempatan, meski sekarang lebih berat tapi akan lebih tidak disesali ketika kita tetap berusaha memberikan yang terbaik daripada menyerah sebelum kita tau akhirnya. Satu persatu dari kami memberikan semangat untuk tim ini, yang kuingat adalah Saat ini kita sudah salah melangkah tapi akan lebih percuma dan memalukan jika kita hanya menyesali tanpa berusaha, Lebih baik sekarang kita berusaha sebaik mungkin. Kami berjalan ke depan untuk menenangkan pikiran kami, kemudian kami disusul oleh team yang satu lagi, dan kami bersiap-siap untuk Bagian 3, bagian terakhir.

Pada bagian 3 ini soal yang diberikan akan cukup kompleks dan kami diperkenankan menggunakan Laptop, skor yang ada pada tiap soal bervariasi antara 100 hingga 500. Sebelum dimulai kukatakan bahwa jika kita bisa naik hingga peringkat 14 sungguh keajaiban bahkan jika hanya di 15 itu saja sungguh keajaiban karena start awal kami adalah di peringkat 31 dengan skor -30. Soal 1 cukup membuat syok karena selain panjang, kami tidak keburu untuk menyelesaikan, masing-masing kembali saling memberikan semangat karena takut semangat tim ini drop lagi. Soal-soal berikutnya kami berusaha menjawab dengan sebaiknya-baiknya. Segala daya dan upaya telah kami kerahkan untuk memberikan yang terbaik. Setelah bagian ini berakhir berarti berakhir pula Babak 1 dan kini saatnya kita menunggu hasil akhirnya.


Babak 1 berakhir pada pukul 17 dan pengumuman baru akan dilakukan pada pukul 20.00. Kami kembali harus menunggu dan sambil menunggu kami diberikan makan malam. Waktu-waktu menunggu kami habiskan untuk saling bercanda dan akhirnya kami bermain tebak-tebakan. Tebak-tebakan seperti black magic, around the world, bumi itu bulat, dll membuat kami semakin akrab satu sama lain juga dengan kedua LO tersebut. Meja kami menjadi lebih ramai jika dibandingkan dengan yang lain. Kami dapat sejenak melepaskan beban dan tekanan yang sejak tadi menekan kami. Hingga akhirnya tiba pengumuman yang lolos. Team Unpar 2 lolos ke babak selanjutnya dan benar saja kami tersisih dari babak 1. Kemudian hanya untuk memuaskan keingintahuan saja kami melihat kami berada pada urutan keberapakah? Team Unpar 2 berada pada urutan 11 dan kami... Sungguh keajaiban kami naik hingga berada pada peringkat 15. Rasa senang, bangga dan sedih bercampur aduk. Kami bahagia karena ternyata usaha kami tidak sia-sia, namun menyesali dan sedih karena kami berada di urutan 15 dan hanya 14 team saja yang masuk, selisih dengan peringkat 14 hanya 40 poin saja. Entah bagaimana rasanya ingin menangis tapi entah karena bahagia atau sedih. Saat pertama mendengar kami berada di 15, kami beteriak dan bersorai karena benar rasanya keajaiban masih ada dan datang pada kami. Namun ketika kami menyadari bahwa meski begitu kami tetaplah tersisih, mulai timbul rasa sedih di hati ini. 

Malam itu kami memutuskan untuk menginap di sana karena hari sudah larut, tidak mungkin pula kami memanggil travel dari Bandung. Sembari menunggu kamar kami berusaha saling menghibur, bahkan LO kami pun turut menghibur kami, dan tetap kami menghibur diri dengan bermain tebak-tebakan. Team yang satunya sedang melakukan Tech. Meet untuk babak 2 dan kami mulai beristirahat di kamar. Setelah mereka selesai tech meet kamar kami menjadi basecamp untuk membahas babak 2. Saat menunggu kamar bagi kami, kami mengajak LO kami yang juga sama-sama anak kos dan satu lagi rumahnya cukup jauh untuk turut menginap di kamar kami. Mereka setuju untuk menginap jadilah malam itu menjadi malam yang cukup ramai. Malam itu kami tidur sekamar berenam.

Esok harinya saat team Unpar 2 sedang berlomba babak 2, aku dan teman yang lainnya memilih untuk berjalan-jalan di sekitar kampus UI, beruntung Shinta mau menemani kami. Kami menuju ke fakultas Teknik, yang cukup dekat dengan tempat babak 2 dilangsungkan. Kami berjalan-jalan di sana, dan berusaha mencoba wifii namun saat itu wifii sedang tidak dapat digunakan. Akhirnya kami menuju ke perpustakaan di sana ternyata kami sudah 1 gedung dengan tempat lomba babak 2. Setelah lama bercerita dan mengobrol di perpustakan kami memilih untuk menemui team yang satunya. Setelah berkumpul dengan team yang satunya kami saling mengobrol dan ternyata kemungkinan team tersebut lolos babak 3 cukup kecil. Kemarin kami terlalu berani dalam bertaruh, dan akhirnya kalah, saat ini team ini belajar dari kesalahan kemarin dengan tidak berani mati namun itu pula yang menjadi kesalahan pada babak ini. Setelah babak 2 akan dilanjutkan tour Teknik, karena kami merasa sudah lelah maka kami memilih berpisah dan menunggu di Wisma saja. Dan kami berpisah dengan team unpar 2 dan juga dengan Shinta. Kami pulang ke Wisma dan beristirahat. Karena sebelumnya kami telah berencana akan Karaoke pada malam itu maka kami bersiap-siap mandi. Kemudian aku turun ke tempat Team Unpar 2 tersebut menunggu pengumuman. Pukul 20.00 dibacakan hasil perlombaan babak 2 dan benar saja team tersebut gagal lolos ke babak 3. Tanpa merasa perlu mengetahui peringkat kami segera kembali ke kamar Team Unpar 1 dan bersiap-siap pergi melepas lelah.


Setelah semua siap dan beres mandi, kami berdelapan dengan ditemani "mantan LO" kami Shinta dan Sisi kami pergi ke Margo City. Sebelumnya kami menyempatkan diri untuk pergi makan, kami pergi makan ke Burger and Grill. Setelah kami makan, karena kata dua teman baru kami Margo City tidaklah jauh dari tempat makan kami maka kami sepakat berjalan kaki ke tempat tersebut. Karena kami berjalan bersama dan diselingi dengan mengobrol maka meski sebenarnya jalan cukup jauh kami tidak merasakan terlalu capek hingga akhirnya kami sampai di Margo City tesebut. Kami akhirnya memsan Suite Room di NAV. Waktu karaoke kami berakhir pada pukul 01.10 pagi. Di karaoke kami dapat tertawa dengan lepas karena beberapa gerakan Grace yang sangat menghibur kami. Setelah itu kami sempatkan diri berfoto dan akhirnya berjalan mencari Taksi untuk pulang. Sebelum pulang kami mengantar Shinta dan Sisi ke kos mereka, namun kami tidak mengantar hingga kos-nya hanya sampai jalan kecil menuju kos mereka. Saat itulah terakhir kami bertemu mereka sebelum keesokann harinya kami pulang. Perkenalan yang hanya sesaat cukup berarti bagi kami, meski hanya 2 hari kita bersama, namun semua pegalaman indah dengan kalian akan selalu kami ingat dan menjadi pengalaman yang menyenangkan selain perlombaan LKTI itu sendiri.


Sampai di Wisma kami tidur berdelapan. Esok harinya kami sepakat untuk pergi ke TekSas (Jembatan Teknik dan Sastra, yang kami lihat pertama kali saat kami nyasar dalam mencari wisma) untuk berfoto-foto. Kami berdelapan sepakat menggunakan baju LKTI. Kami mencoba naik bis kuning yang sebelumnya pernah kami naiki juga. Hanya dengan menggunakan insting, dan ketika kami melihat jembatan tersebut kami memutuskan untuk turun di fakultas tersebut. Kami berjalan bersama mencari jalan menuju jembatan tersebut, ternyata kami harus masuk ke dalam area kampus, dan benar saja kami menjadi tontonan, karena selain pakaian kami yang sama semua ada diantara kami yang menggunakan celana pendek dan celana baske saja. Banyak orang yang berpapasan dengan kami tertawa dan tampaknya membicarakan kami "turis nyasar".  Akhirnya kami berhasil sampai dan foto di TekSas tersebut, karena jam telah menunjukan pukul 11.30 kami bergegas kembali untuk makan siang di Saung Mang Engking. Kami segera menuju ke perhentian bis, sebelumnya Grace sempat menelpon Sisi untuk menanyakan apakah mereka dapat bergabung dengan kami. Ternyata mereka sedang kuliah. Jadilah kami berpamitan dengan mereka melalui Grace. Setelah itu kami segera makan di Saung Mang Engking dan setelah selesai makan kami segera pulang ke Bandung. Perjalanan pulang tidak seramai perjalanan berangkat karena tampaknya kami cukup lelah maka dalam perjalanan kami semua terlelap, dan terbangun ketika telah sampai di Pintu Tol Pasteur. Mulai dari perhentian travel itulah kami mulai berpisah satu sama lain.

Meski kami gagal meraih keberhasilan dalam lomba ini, tapi banyak pengalaman dan pelajaran berharga yang kami dapat di perjalanan dan perlombaan ini. Kami dapat menjadi lebih mengenal satu sama lain, menambah teman baru, dan belajar untuk tidak mudah menyerah dan selalu memberikan yang terbaik.

Untuk dua sahabat baru kami, terima kasih karena kalian telah membantu kami dalam banyak hal dan memberikan kami banyak pengalaman baru.

Dalam segala perjumpaan, pastilah akan ada perpisahan
Meski inilah saatnya kita berpisah dan kembali ke realitas kehidupan masing-masing
Namun semua yang telah dilalui bersama akan selalu menjadi kenangan indah dan pelajaran yang tak ternilai harganya
Terima Kasih Teman atas semua pengalaman indah dan berharga ini
Semoga kita dapat mengukir kenangan indah lain di lain kesempatan